Sabtu, 30 April 2011

Siapakah Pahlawan itu?


Seorang perempuan muda berseragam putih menyeberangi jalan yang sepi dengan kendaraan .Daerah itu bukanlah perkotaan. Kicauan burung, nyanyian jangkrik bahkan gumaman sapi yang perlahan menghibur hati seolah menjadi saksi langkah-langkah yang tergesa-gesa menuju tempat yang sepertinya begitu mengharapkan kedatangannya. Ya, tepat di saat semua makhluk beristirahat, perempuan ini dengan semangatnya melewati jalan berlumpur yang tidak ramah. Bebatuan yang menusuk kaki menjadi cambuk tuk segera sampai tujuan.

“Alhamdulillah, tolong bu, istri saya sepertinya akan segera melahirkan”, suara bariton yang bergetar penuh harap menyambut kedatangnya sesampai di depan pintu rumah sederhana itu. Tak berapa lama kemudian, suara tangisan bayi pun mengusik ketenangan malam.

Siapakah dia ? seorang perempuan yang sehari-harinya tak kenal lelah dari satu desa ke desa yang lain untuk menyelamatkan jundi-jundi yang akan menjadi generasi harapan. Hanya seorang perempuan biasa yang dengan seragam lusuhnya karena sering dipakai utnuk bertugas. Hanya seorang perempuan biasa dengan sebuah tas kumal berisi peralatan dan obat-obatan. Mungkin tak ditemukan di perkotaan, Karena ia hanya hadir untuk orang-orang yang membutuhkan dengan ketidakmampuan mereka.
“maaf bu, saya tidak punya uang untuk proses persalinan, seandainya……”kalimat yang tidak perlu dilanjutkan lagi karena ia sudah hafal dengan kata-kata itu.
Apa yang membuat mereka bertahan dengan segala halang rintang yang tidak ringan? Dengan segala keterbatasan transportasi dan peralatan? Dengan dingin malam ataupun panasnya siang?

Atau siapakah dia yang berada di balik kesuksesan seorang dokter. Yang mengibur pasien siang dan malam, merawat layaknya seorang ibu penuh kasih. Siap dipanggil saat dibutuhkan. Tak kenal siapa yang memanggil, bahkan rela menemani walau tak tahan dengan kondisi terburuk sekalipun. Datang dengan senyum pembawa harapan. Dengan segala keinginan tetap bertahan untuk sebuah pengorbanan.

Tulus..

Jawaban singkat dari semua itu.
Semua perkuliahan diikuti dengan sungguh-sungguh karena ilmu menetukan keberhasilan proses persalinan dan kefasihan dalam merawat. Apa jadinya jika seorang perawat tidak cerdas dan tidak paham dengan ilmu yang didapatnya? Apa jadinya jika seorang perawat bingun dengan kondisi pasien yang berbeda-beda? Sungguh hanya akan mempersulit keadaan dan mencelakakan orang lain. Sebuah hadits sederhana ini menjadi penentunya;

عن جابر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « المؤمن يألف ويؤلف ، ولا خير فيمن لا يألف ، ولا يؤلف، وخير الناس أنفعهم للناس »

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)
Bermanfaat dengan segala resiko yang harus dihadapi menjadikan perempuan berseragam putih ini bukanlah perempuan biasa. Mereka ada layaknya pahlawan yang menjalankan misi tanpa pamrih. Menyelamatkan banyak manusia yang dengan kehendak Allah menghirup udara dunia.

Sebagaimana Rufaidah Binti Sa’ad al-Aslamiyah. Sahabiyah yang berasal dari Bani (marga) Aslam, salah satu marga di suku Khazraj di Madinah. Ia merupakan perawat pertama pada masa penyebaran islam /The Islamic Periode ( 570 – 632 M).Pada saat peperangan yang diikuti yaitu Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq, Perang Khaibar dan beberapa perang lainnya, ia lah yang menjadi tonggak dalam penjagaan dan perawatan terhadap kaum muslimin yang terluka. Atau layaknya Nusaibat Binti Ka’ab Bin Maziniat, dia adalah ibu dari Abdullah dan Habi, anak dari Bani Zayd bin Asim. Dia berpartisipasi dalam Perjanjian Akabat dan Perjanjian Ridwan, dan andil dalam perang Uhud dan perang melawan Musailamah di Yamamah bersama suami dan anaknya. Dia terlibat dalam perang Uhud, merawat korban yang terluka dan mensuplai air dan juga digambarkan berperang pedang membela Nabi. Namun, dengan segala kerendahhatian mereka tidak menutup mata mereka untuk tetap berkarya yang lebih besar, terbukti dengan rufaidah yang mendirikan Rumah Sakit Medan Perang.
Zaman sekarang, bisa dilihat dari salah seorang perawat bidan muslimah pada tahun 1960 yang bernama Lutfiyyah Al-Khateeb yang merupakan perawat bidan arab Saudi pertama yang mendapatkan Diploma Keperawatan di Kairo,  ia mendirikan institusi keperawatan di Arab Saudi.

Perempuan berseragam putih ini berada di balik kesuksesan sebuah peperangan, dibalik lahirnya generasi pembawa kemenangan, dan di balik kemegahan hidup yang terkadang menistakan harapan. Mereka hadir dengan segala peluh dan keteguhan hati ber ta’awun dengan semua yang membutuhkanya. Karena memang mereka hadir layaknya pahlawan yang datang saat dibutuhkan dan berjuang untuk kemaslahatan.
Wallahu’alam bishhowab.

depok,20 April 2011

Rabu, 02 Maret 2011


Selaksa Cinta untuk Ayahanda


Ku tak pernah meminta untuk menjadi buah hatinya…
Kala itu ku hanya bagaikan kertas putih tak tergores..suci..
Ku tak pernah meminta untuk menjadi yang paling disayangnya..
Berjuta benih bintang pastikan berlomba tuk mengharapkan.
Ku tak pernah meminta untuk menjadi yang paling dipujinya..
Seluas pasir di pantai menjadi saksi perjuangan srikandi di setiap pulau di belahan dunia..

siluet gagah itu bagaikan oase di tengah gurun pasir kehidupan..
Datang tanpa mengharap untaian terima kasih..
Karena ia hadir dengan cara berbeda dari terkira..
Pendekar itu bukan lah seorang perempuan..
Namun, kecupan hangat di kening tak lepas kala ku harungi samudra penuh dentuman ombak tak bersahabat..
Untaian kalimat mutiara selalu hiasi perjalanan saat wajah tak bersua..
Tatapan yakin dan penuh kobaran semangat berbingkai keikhlasan jadi santapan yang meneguhkan..

Dulu belum termaknai semua itu..
Buaian tangan kekar yang rela berlelah setiap detik
Tak ternyana di dalam hati rindukan jundi pelipur lara
Nyanyian malam yang melelapkan tak disiakan walau tuk sekadar mengecup si buah hati,
Melihat wajah generasi harapan..mengantikannya dimasa depan..

Hati berkata namun lisan tak terbawa
Hanya doa pada Yang Kuasa..
tersampaikan lah selaksa cinta tuk ayahanda..

(Depok, 2 Maret 2011)
Met Milad yah..^^

Selasa, 01 Maret 2011

“Menjadi Pemuda,Menjadi Mulia”

Sebuah konsep keteguhan hati dan cita-cita yang tinggi telah lahir dari semangat para pemuda pada tanggal 28 oktober 1928. Perjuangan yang dilandasi kekuatan para pejuang muda kala itu membuahkan hasil sehingga saat ini pemuda menjadi sorotan dunia.
Namun, jauh sebelum itu, tepatnya 1400 tahun yang lalu ketika hiruk pikuk dunia dan maksiat merajalela , sebuah tangisan bayi yang tidak biasa terdengar dari rumah salah seorang wanita mulia yang kelak diberi nama Muhammad SAW. Kemuliaan yang dihadirkan dari sosok pemuda tangguh namun lembut ini membawa cahaya pengharapan yang mempengaruhi peradaban, tak sekadar wilayah tempat tinggal kaumnya namun seluruh dunia.
Pemuda…sebuah kata yang mampu menggetarkan dunia. Pemuda menjadi sosok yang disegani karena pemuda mempunyai pemikiran yang luar biasa. Bahkan seorang Soekarno pernah berkata’ Berikan aku seratus pemuda yang progresif dan revolusioner maka niscaya aku akan mengubah dunia”. Pertanyaannya, pemuda yang bagaimana yang mampu mengubah dunia?
Selintas terlihat mahasiswa dengan jaket almamaternya sedang meneriakkan kata –kata di tengan teriknya matahari. Meneriakkan yel-yel yang membangkitkan semangat mahasiswa lain. Dengan semangat itu pula yang menyebabkan terlontarnya kata-kata”aksi lebih penting dari pada kuliah…aksi kita untuk masyarakat. Kita mahasiswa pro rakyat!!”
Di waktu yang sama, terlihat sekelompok mahasiswa sedang berdiskusi di lingkungan fakultas hukum. Mati-matian memperjuangkan studi demi masa depan lebih baik, yang pastinya ingin mendapat ipk minimal 3.00.
Sekilas, terlihat dua perbedaan diatara mereka, yang satu memperjuangkan akademik, dan yang satu lagi berorientasi organisatoris. Namun, keduanya punya satu kesamaan, sama-sama “bergerak”. Ketika orientasi akademis dan organnisatoris digabung, maka terciptalah pemuda (baca;mahasiswa ) yang progresif seperti yang diimpikan oleh Soekarno. Mahasiswa yang dalam Islam dianalogikan sebagai muslim yang sholih dan muslih. (sholeh dan mensholehkan)artinya tidak hanya memikirkan diri sendiri tetapi juga bermanfaat bagi orang lain.
Layaknya paradigma bahwa muslim adalah laki-laki, maka pemuda terkadang hanya diartikan sebagai laki-laki yang mampu berpikir kritis. Padahal, sejarah juga mencatat pemudi pun turut berperan dalam perintisan kemenangan. Sejarah Islam mencatat seorang wanita yang mampu membuat terkesima para pejuang muslim bukan karena bentuk fisik yang diagung-agungkan zaman ini, tapi ketangguhan dalam menegakkan agama Islam. Wanita mulia itu bernama Khansa’.
Pemudi tak hanya menjadi bagian pelengkap saja, ia merupakan pejuang yang tidak terlihat. Lihatlah bagaimana Fatimah Az-Zahra , putri Rasulullah memberikan bukti konkret peran seorang pemudi dalam menjadi pioner penegak panji Islam. Seorang pemudi yang ternyata di usia mudanya mampu menemani masa-masa kepemimpinan Rasulullah dan menjadi teladan bagi penuntut ilmu.
Sudah jelas nampaknya bahwa paradigma pemuda(baca:mahasiswa) yang harus menjadi seorang organisatoris maupun harus menjadi akademisi hanyalah impian biasa. Yang luar biasa adalah impian menjadi pemuda yang tulus dalam melakukan semuanya. Kuliah, organisasi, maupun kegiatan lain hanya wadah untuk menampilkan nilai-nilai kepemudaan yang ada pada diri kita. Hanya, tinggal kita yang memilih, apakah menjadi pemuda mushlih yang progresif atau menjadi pemuda biasa yang menjalankan rutinitas kemahasiswaannya??hanya kita sendiri yang bisa memutuskan…

Minggu, 20 Februari 2011

Srikandi Berhati Bidadari

“Ikhlas ya ukhtiy, kalau boleh ana mengajukan syarat, jika kita menikah nanti anti cukup berada di rumah dan mengurusi urusan rumah tangga, anti tidak perlu capek-capek mencari nafkah karena Insya Allah sudah cukup dengan rezki yang Allah berikan kepada ana ”

Sebuah pernyataan sekaligus pertanyaan yang mungkin saya, kamu dan kita semua anggap remeh. Ya, pernyataan yang menjadi pamungkas bagi para ikhwan yang ingin mendapatkan seorang istri sekaligus ibu yang sholihah dan selalu berada di rumah.

Tidak ada yang salah dalam pernyataan itu dan memang sudah menjadi fitrahnya bagi seorang ikhwan akan lebih memilih seorang wanita yang mampu mendidik anak secara keseluruhan dan memanage keluarga dengan sebaik-baiknya, urusan dapur biar bapak yang selesein.

Dan ini juga bukan masalah penyetaraan gender, dimana saya akan berupaya agar seorang wanita juga diberi hak untuk keluar rumah dan melakukan pekerjaan yang sama dengan laki-laki. Tidak, sama sekali tidak.

Menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya adalah dambaan seorang perempuan. Yah, saya sebenarnya lebih cenderung untuk membahasakan wanita dengan perempuan.

Perempuan menjadi tonggak utama dalam membentuk akhlak yang baik bagi generasi-generasi Islam berikutnya. Dan perempuan dibutuhkan untuk memahami seutuhnya peran tersebut.

Namun, mari kita lihat di sisi lain dimana perempuan yang kita harapkan telah mempunyai wawasan yang luas baik dari sisi agama maupun kemampuan keilmuannya ternyata tidak dimiliki oleh semua perempuan, khususnya muslimah. Seorang muslimah mempunyai peran ganda dimana ia menjadi bidadari di rumahtangganya sekaligus srikandi bagi kaumnya, yaitu perempuan.

Terdapat 5,3 juta perempuan Indonesia buta aksara yang dengan ketidakmampuan membaca dan menulis ini membuat perempuan sulit mendapatkan hak-hak pelayanan publiknya.

Sungguh miris jika melihat kondisi perempuan Indonesia yang sering kita sebut sebagai tiang negara ternyata banyak yang buta aksara. Padahal merekalah nanti yang akan bermain peran dalam keluarga yang merupakan “batu bata” dari istana Islam yang megah. Nah, disinilah saya melihat peran srikandi bagi kaum perempuan itu sendiri.

Dimana perempuan juga harus bisa mendidik kaumnya sehingga menjadi setidaknya tidak buta akan pendidikan terutama dalam baca tulis yang peran ini tidak akan bisa diserahkan kepada laki-laki karena metode pengajaran seorang perempuan terhadap perempuan akan lebih efektif dibandingkan dengan laki-laki.

Nah, ini hanya contoh kecil dari masih banyak kasus yang menimpa kaum perempuan dan hanya bisa diselesaikan oleh perempuan. Tidak bisa dipungkiri bahwa Islam juga butuh seorang muslimah yang mampu berperan ganda tersebut untuk memberdayakan kaum perempuan itu sendiri yang kebanyakan lebih bersifat tatap muka sehingga sangat mustahil seorang perempuan yang berpotensi dalam berdakwah kepada kaumnya hanya bermain di belakang layar, namun ia harus turun ke lapangan sebagai bentuk empatinya terhadap kaum perempuan dan terutama tentu yang lebih mulia adalah demi Islam yang lebih indah.

Untuk itu dibutuhkan seorang laki-laki muslim yang memahami peran ganda seorang perempuan jika kelak ia mempunyai istri.
Wallahu’alam bishshowab

Ryan Muthiara Wasti (ryan_muthiara@yahoo.com)
Fakultas Hukum 2008

Kamis, 17 Februari 2011


Masihkah Mau Menjadi diriku??

“saat yang ditunggu-tunggu akan datang..sebentar lagi akan kita dengarkan hasil keputusan dari dewan juri pemilihan mahasiswa berprestasi fakultas X 2010”
“juara 3….fulan angkatan 2006”
“saya hanya akan membacakan juara 1, maka sisanya adalah juara 2….. dan juara 1 adalah fulan angkatan 2006” tepuk tangan meriah dan sorak-sorai yang membahana seolah memecah lobi fakultas yang terkenal dengan hedonnya.

**

Kebanggaan …kata yang mampu mengubah seorang mahasiswa yang malas menjadi rajin..kata yang mampu mengubah seorang pendiam menjadi aktif berbicara di forum, namun juga kata yang mampu mengikis sebuah rasa tulus yang telah tersimpan jauh di lubuk hati.

Pada umumnya manusia menganggap bahwa kebanggaan dapat tercapai hanya jika manusia telah mendapat apa yang dicita-citakan. Dan biasanya bagi mahasiswa, yang menjadi standar sebuah kebanggaan adalah dengan menjadi mahasiswa berprestasi. Salah satu contohnya adalah yang baru saja terjadi di salah satu universitas yang dikatakan menyandang nama Indonesia. Dengan baliho Mapres(Mahasiswa Berprestasi) disana- sini, dan foto serta profil calon Mapres itu setidaknya telah menggambarkan seberapa pentingnya agenda tersebut.

Dibalik riuhnya, ada seorang mahasiswi yang terlihat sedikit murung, bukan karena tidak makan, lagi banyak tugas atau lagi banyak agenda dakwah. Namun, pemilihan Mapres ini seperti menohok batinnya, dan menuding ketidakandilan dia dalam akademis. Yah,mahasiswi ini(sebut saja M) adalah mahasiswi yang IPKnya walau masih diatas 3 koma namun tidak terlalu”dianggap” dalam masalah akademis. Ia sedih karena ada sebuah rasa yang hadir jauh di lubuk hatinya. Bahkan terlihat ia menahan isak,namun ia tidak menjauh dari kerumunan pemilihan itu.

Hhh…kadang, perspektif terhadap sebuah prestasi terbatas hanya pada apa yang sering digaungkan bahkan dilebih-lebihkan oleh masyarakat. Bahkan, terkesan jika seorang mahasiswa tidak memiliki IPK yang bagus, maka dianggap tidak cerdas,dan tidak patut dibanggakan. Padahal, setiap manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing,maka sebenarnya tidak ada standar untuk mengatakan seseorang hebat hanya karena dia menjadi mahasiswa yang berprestasi. Bukan…bukan itu.. kehebatan seseorang justru adalah ketika dia mampu memetamorfosis pupa potensi yang semula bersemedi dalam kukungan menjadi kupu-kupu kejayaan bersayap indah. Potensi yang dimilikinya mampu mengubah dia menjadi pribadi yang bisa menonjol dibandingkan yang lain bukan hanya karena IP yang bagus atau iming-iming murahan duniawi semata namun keyakinan dan ketulusan tuk menerima sepenuh hati semua karunia yang masih tersembunyi dalam diri.

Pupa tak berbentuk itu mulai bergerak….tak usah bergeming..
Tetaplah di tempatmu….
Biarkan ia menggeliat dan mengeluarkan tenaganya tuk melihat
Dunia yang lebih luas…
Ya…Ia akan bermetamorfosis…
Biarkan ia tertatih tuk jalani perjuangan yang berat…
Karena sebentar lagi…
Ia akan mengembangkan sayapnya tuk harungi samudra…
Maka…jangan bergerak…
Tatap saja teman…
Lihatlah….perlahan namun pasti ia pun keluar…
Makhluk berbeda muncul setelah keringatnya menganak sungai…
Berbeda….berbeda sekali…
Karena sekarang ia tampak begitu indah….
Karena setiap pupa punya potensi tuk jadi indah..
Hanya pupa yang aktif dan terus berikhtiar yang kan menjadi luar biasa…
Kupu-kupu indah itu kini telah hadir…
Maka saksikanlah betapa dahulu ia tidak begitu berharga
Namun setelah perjalanan yang panjang dan bergelombang….
Ia kini begitu mempesona….

Sekilas mari kita bernostalgia dengan sosok-sosok tangguh pada masa 14 abad silam. Abu Bakar dan Utsman bin Affan biasa menginfakkan total hartanya, karena mereka yakin pada kemampuan daya cipta sarana materi mereka. Umar bin Khattab dan Abdurrahman bin Auf selalu menyedekahkan 50% hartanya untuk ummat. Umar bin Khattab dan Khalid bin Walid; keduanya adalah petarung sejati, pemimpin sejati dan juga pebisnis sejati. Berkata Umar: "Tak ada pekerjaan yang paling aku senangi setelah perang di jalan Allah, selain dari bisnis”. Asma binti Abu Bakar walaupun seorang wanita namun ia punya cara untuk tetap memperoleh kemuliaan dengan mendapat gelar zatunniqatain(wanita bersabuk 2). Perbedaan kelebihan itu tidak menjadikan mereka sombong dan berbangga diri, namun justru menambah keimanan dan memperkuat ikatan hati di antara mereka. Sebuah kebanggaan memang selalu terpatri di hati mereka, kebanggaan yang bukan untuk meninggikan diri mereka sendiri, namun sesuatu yang lebih tinggi yaitu kebanggaan terhadap Islam.

Pada kenyataannya memang sulit untuk tidak membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Kelebihan yang ada pada orang lain sering dijadikan bahan melemahkan diri seolah diri sendiri tidak berharga dibanding yang lain. Pernahkah mendengar kisah seorang yang buta dari kecil, tak pernah melihat dunia ini namun mampu membuat lukisan yang luar biasa indahnya seolah ia pernah menikmati keindahan dunia. Ada pula seorang cacat kaki namun mampu memenangkan kejuaraan lompat tinggi, Ada Bilal yang berkulit hitam namun dengan keteguhan hatinya mampu mengangkat dia menjadi seorang yang mulia. Dan masih banyak contoh lain yang terkadang luput dari pikiran kita akibat terlalu banyak melihat ke atas. Teman, jangan lihat ke atas jika tak ingin kelilipan, namun lihatlah kebawah agar kita bisa melihat seberapa panjang bayangan kita.

Yah..kita punya potensi masing-masing yang berbeda dan semua itu menunjukkan betapa Allah ingin kita saling membantu satu sama lain,menghilangkan keegoisan pribadi dan mengenakan baju ketulusan dalam menerima takdir Nya bahwa setiap kita diciptakan berbeda agar dapat saling mengenal dan melengkapi kekurangan saudaranya. Bisa dibayangkan jika semua manusia diciptakan dengan potensi yang sama, maka dunia tak kan seindah ini. Tak ada yang berpotensi di bidang pertanian,tak ada makanan, tak ada yang berpotensi di bidang hukum, tak kan tegak hukum yang sesuai dengan Islam, tak ada guru tak kan ada yang menjadi murid dan tak kan dan ada bangku pendidikan. Subhanallah, perencanaan Allah memang lebih luar biasa dibandingkan manusia. Maka, selalu dan selalulah perbarui syukur ini, dirimu,aku dan kita semua bisa menjadi mulia, tentu bukan dari perjalanan di atas karpet merah,namun di genangan lumpur dan jauhnya pendakian yang kita lalui. Maka, di ujung perjalanan nanti tak perlu lagi kita bertanya pada diri sendiri, Masihkah mau menjadi diriku?? Karena keteguhan hati akan menjawab: inilah diriku…

Wallahu’alam bishshowwab